Game yang Menggerogoti

GAME YANG MENGGEROGOTI

Di salah satu pos pelayanan kami, tepatnya di aula St. Lusianus Muzoi, kami membuat dua pondok yang kami rencanakan sebagai tempat rekreasi, santai dan minum kopi setiap sore hari. Di pos pelalanan ini juga, situasi jaringan cukup bagus dan berada di tempat strategis, serta memiliki pemandangan yang cukup memanjakan mata.

Seiring berjalan waktu, pondok ini kemudian terus menjadi tempat anak-anak yang katanya untuk belajar “Daring” (dalam jaringan). Namun setelah ditelusuri, ternyata mereka datang ke situ bukannya untuk belajar atau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Mereka justru asyik untuk bermain game. Hal ini sontak menjadi perhatian tersendiri bagi saya.

Saya memperhatikan anak-anak tersebut dan ternyata mereka memainkan game yang sekarang ini sedang viral. Permainan yang sering dimainkan itu adalah Mobile Legends dan Free Fire. Permainan ini membutuhkan koneksi jaringan internet, dan dimainkan dalam bentuk team. Selain itu, dalam game ini, komunikasi satu tim juga bisa langsung.

Suatu ketika, saya datang dan bergabung dengan mereka dan mencoba berbicara dengan mereka. Saya bertanya: apa untungnya/manfaatnya kalian memainkan game ini? Mereka langsung mengatakan bahwa dengan bermain game, itu suatu kesenangan. Dari pernyataan mereka semua dan dari pengamatan saya, tidak ada untungnya memainkan game ini selain hanya untuk kesenangan dan hiburan mereka saja. Namun dibalik semuanya itu, saya melihat beberapa efek negatif yang muncul, diantaranya:

Motifasi belajar hilang. Bagian pertama ini menjadi sorotan utama bagi saya, bahwasanya game ini sungguh menggerogoti hidup manusia saat ini. Game yang tidak mengenal umur, kalangan, dan strata ini, sungguh sangat mengganggu kegiatan belajar siswa pada khususnya. Pelajaran yang hanya mengedepankan pemberian tugas, membuat siswa sungguh merasa bosan. Akibat dari kebosanan tersebut, mereka mencari kesenangan dengan bermain game.
Adanya perubahan sifat dan karakter. Anak-anak atau orang yang sudah mulai kecanduan game, pasti akan dengan mudah menemui perubahan sifat dan karakter. Perubahan yang paling cepat ditemukan kepada anak-anak saat ini adalah pintar berbohong atau dengan sigap mencari alasan. Alasan yang paling utama adalah untuk belajar ditempat yang ada jaringan internet. Nyatanya, yang dilakukan adalah bermain game. Perubahan lain yang dengan cepat diketahui adalah keluarnya kata-kata yang tidak senonoh. Bermula dari kekesalan karena kekalahan memainkan game atau jaringan yang lelet, ini membuat kata-kata kotor dan makian dengan spontan dikeluarkan. Terlebih kalau orang tua memanggil atau menyuruh mengerjakan sesuatu dan harus menghentikan laju permainan, sifat melawan dan memberontak pun tidak terelakan lagi.
Tidak mengenal waktu. Kemenangan ataupun kekalahan dalam bermain game, bukanlah menjadi akhir dari bermain game. Kemenangan menjadi sarana untuk berbangga dan ingin mengalahkan kelompok yang lain lagi. Kekalahan adalah aib yang harus dibayar dengan berusaha untuk mengalahkan orang atau kelompok yang telah mengalahkan tersebut. Terlebih kalau kedua team yang saling kenal, kekalahan akan menjadi sarana bulian antara keduanya. Jadi dengan memainkan game, mengulangi dan mencoba lagi adalah filosofi yang berlaku. Dengan mengulagi dan mencoba lagi, waktu itu tidak bisa diukur lagi.
Tidak mengenal rasa lapar dan kesehatan mata. Akibat dari tidak mengenal waktu, rasa lapar ataupun haus tidaklah menjadi kendala untuk bermain game. Keasyikan memainkan game membuat mereka tidak “fly” dan tidak lagi menghiraukan apa yang ada di sekitarnya. Selain itu, efek mata yang terlalu lelah pun tidak dihiraukan lagi.
Efek negatif ini tentunya menjadi keprihatinan bersama. Efek ini juga tidak bisa dihindari begitu saja terlebih karena situasi pandemi Covid-19 yang memaksa dunia pendidikan harus mengambil langkah belajar “daring”. Oleh karena itu, satu hal yang dapat menghambat efek negatif diatas adalah peran dan pendampingan dari orang tua.

Orang tua memiliki andil yang kuat dalam mengontrol seluruh pergerakan anak dalam keluarga. Orang tua dalam keluarga merupakan pendidik yang pertama dan utama. Terlebih di saat pandemi Covid-19 ini, orang tua dipaksakan untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Tidak hanya itu, orang tua juga diharapkan untuk menjadi teman bermain untuk anaknya. Lewat pendampingan orang tua, anak dalam keluarga mendapat perhatian yang cukup dan tidak mau lagi mencari kesenangan di luar lumah.

Harapan terakhir adalah kepada Pemerintah khususnya kepada Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Kepada Bapak Menkominfo diharapkan kerja sama untuk membatasi peredaran game di saat pelajaran daring ini. Dengan adanya pembatasan terhadap game, ini juga sangat membantu orang tua dalam mengontrol anak bermain game. Lewat ini kita membagun jaringan untuk dapat meminimalisir hal-hal yang menggerototi kita semua.

Gunungsitoli, 09 Juni 2021
Ya’ahowu.
Sumber:kompasiana

Open chat
1
Ada yang bisa saya bantu?
Hello
Seamat datang di dfrcollection.com