Sekolah Bukan Satu-satunya Tempat Mendidik Anak. Di Pelukan Orang Tualah Tempat Itu Berada

Sejak tahun 1947 Indonesia telah menetapkan kurikulum untuk pendidikan siswa di sekolah. Dua tahun setelah kemerdekaan, bangsa kita sudah merdeka, tapi apakah pendidikan kita cukup “merdeka” untuk anak-anak bangsa sendiri ? Bisa dilihat saat ini, anak-anak di negara Indonesia memiliki potensinya masing-masing. Apakah setiap orang tua telah memilih sekolah yang tepat untuk si anak? Ataukah sekolah pilihan orang tua justru membuat anak-anak menjadi robot mereka? Apakah setiap anak telah bebas berekspresi untuk mimpinya sendiri di tahun 2020?

Datang pagi, duduk di bangku sekolah lalu membuka buku pelajaran sampai siang bahkan sore, mendengarkan guru menerangkan menjadi rutinitas anak sekolah dari sejak dulu. Tahun ke tahun kurikulum pendidikan di Indonesia mengalami perubahan bahkan mungkin ada beberapa “perbaikan” di dalamnya. Beberapa sekolah memiliki penambahan kurikulum asing dalam pembelajarannya, menambahkan metode pembelajaran yang cukup variatif untuk anak-anak bisa menjadi nilai tambah dalam pendidikan.

Lantas apa kurikulum, metode belajar, ilmu dalam sekolah yang di dapat oleh anak cukup untuk memahami karakter setiap anak. Mari perhatikan dari setiap tindakan anak baik di sekolah atau di lingkungan permainan. Untuk mempermudah, ruang lingkup dibatasi untuk jenjang sekolah dasar. Mengapa? Karena jenjang ini berlangsung selama 6 tahun di mana waktu paling lama untuk anak sekolah sesuai standar wajib belajar di Indonesia.

Anak-anak sekolah dasar dengan rata-rata usia 6-12 tahun ibarat suatu kanvas. Mereka transisi dari balita menjadi anak-anak. Mereka merupakan ouput dari taman kanak-kanak yang berisi tentang dunia bermain bermain dan bermain. Pada sebagian anak yang baru menginjakkan kaki di kelas SD dengan usia umum 6-7 tahun, terkadang mengalami kesulitan dalam penyesuaian dalam bersekolah di SD.

Anak-anak ini masih meraba-raba di mana dia berada, siapa dirinya dan apa tujuannya berada di sekolah. Imajinasi mereka sangat beragam. mimpi mereka begitu unik. Cita-cita mereka sangat hebat. Ketika menghadapi suatu masalah, banyak dari mereka mencari jalan keluar dengan sesederhana mungkin. Mereka lugu namun dulu, ketika teknologi belum menjadi intervensi yang dominan pada diri mereka.

Mereka menganggap tulisan lebih menarik untuk dibaca, mereka menggap visual dalam buku setara dengan tulisan, di mana kedua hal itu menarik perhatiannya. Tapi itu dulu, sebelum teknologi menjadikan para anak-anak “robot”. Tidak ada yang salah dalam teknologi, yang harus diperhatikan adalah siapa yang menggunakannya dan bagaimana teknologi membentuk karakter anak. Siapa yang punya tugas dalam hal ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah yang membuat anak tersebut lahir ke dunia, orang tuanya.

Setiap anak tidak pernah meminta dilahirkan ke dunia, dia tidak pernah meminta dilahirkan oleh bapak siapa dan ibu siapa. Tapi orang tua lah yang menginginkan mereka ada, mengharapkan mereka hadir. Para orang dewasa memang perencana terbaik, entah untuk dirinya sendiri atau keluarganya. Beberapa orang tua bekerja banting tulang pagi sampai malam. Berpenghasilan sepersekian untuk masa depan keluarga termasuk pendidikan anak.

Beberapa dari orang tua berpikir jika anak mereka bersekolah dengan pendidikan dan kurikulum yang “bagus” maka anak-anak mereka akan aman dan menyukainya. Pada kenyataannya? Tak jarang anak-anak melakukan berontak pada orang tuanya sendiri saat dia dewasa. Saat dia merasa dia telah mengenal dirinya, dia telah menemukan dia siapa. Dan orang tua hanya bisa beradu argumen, beberapa dari mereka menemukan solusi dan berakhir dengan keputusan yang menguntungkan 2 belah pihak yaitu anak dan orang tua. Tapi tidak dengan beberapa yang lainnya.

Kami tidak butuh sekolah mahal dan bagus, kami butuh kalian, kami ingin tahu siapa kami, untuk apa kami harus pergi ke sekolah. Kami ingin tahu dari kalian, bukan dari guru kami. Bukankan kalian pernah menjadi anak-anak?

Sejauh apa peran orang tua terhadap pendidikan anak? Tak pernah ada jarak yg bisa diukur untuk hal itu, Orang tua berhak menjadi pengenal pertama anak-anaknya, siapa anak mereka, apa potensi mereka, langkah apa yang harus orang tua ambil untuk pendidikan anak bahkan aspek dan isu internal/eksternal apa yang dapat mempengaruhi perkembangan pendidikan/karakter anak.

Ibu menjadi salah satu sosok yang punya peran penting dalam pendidikan anak, karena ibu merupakan madrasah pertama anak-anaknya. Lantas apa ayah bisa diam saja hanya mencari nafkah? Jelas tidak, tahun semakin maju, semua sesuatu bisa menghasilkan sesuatu baru. Kita tidak hidup pada zaman Jahiliyah, kita hidup pada zaman di mana gender bukan masalah, ayah dan ibu setara. Jika ayah bisa mecari nafkah, maka ibu pun bisa, Jika ibu bisa bekerja domestik dan mengurus anak maka ayah pun pasti bisa. Permasalahan yang sering terjadi adalah apakah kedua belah pihak memiliki prinsip kesetaraan? Nyatanya tidak semua berprinsip seperti itu.

Lalu bagaimana anak bisa mengenali dirinya jika orang tua mereka tak saling mendukung? Cukup sulit, namun setiap masalah pasti ada solusi. Saat ini telah banyak lembaga pendidikan non formal untuk mendukung perkembangan anak. Baik perkembangan kecerdasan kognitif, karakter, sosial, emosi dan kreativitasnya. Lantas apa orang tua bebas lepas tangan setelah menyerahkan semua kebutuhan anak pada lembaga? Jelas tidak, orang tua sangat harus dan wajib memantau bagaimana anak-anaknya mendapat pengajaran. Karena sesungguhnya tahap pengenalan anak tidak pernah ada batasnya.

Bagaimana dengan cita-cita anak? Saat ini setiap inci dari kehidupan menghasilkan suatu pekerjaan. Hal ini sangat berbeda dengan dulu, teknologi semakin maju, variasi pekerjaan semakin berkembangan tahun ke tahun. Masih ingat dengan prinsip zona aman tahun 90-an. Di mana dikatakan sukses adalah saat anak menjadi seseorang yang dimau oleh orang tuanya. Sadar atau tidak, tahun 2020 masih banyak orang tua yang memiliki cara pandang seperti itu. Tidak ada yang salah dalam cara pandang, yang perlu sedikit dikoreksi adalah apakah masih relevan diterapkan untuk generasi saat ini?

Pemerhati pendidikan semakin bertumbuh hari ke hari, hati mereka tergerak dengan keadaan pendidikan anak bangsa ini. Anak-anak bangsa adalah aset terbaik negara, anak muda sebagai penggerak setiap perubahan. Anak muda yang hebat berasal dari anak-anak yang telah benar-benar mengenal dirinya sejak kecil. Siapa yang lebih hebat dari pemuda dan anak-anak? Jawabannya adalah kamu para orang tua,yang bisa mengenal diri anak jauh lebih dalam. Kamu yang berhasil membangun engangement terbaik dengan anak-anakmu. Kamu yang berhasil menjadi role model anak-anakmu, bersyukurlah semoga di masa depan anakmu akan berkata,
” Aku ingin menjadi seperti ayah dan ibu yang hebat. ”

sumber : hipwee

Open chat
1
Ada yang bisa saya bantu?
Hello
Seamat datang di dfrcollection.com