Anak Bukan Duplikat Orang Tua, Kepribadiannya Saja Beda

Sejak Desember 2019 lalu, dunia dikejutkan dengan hadirnya suatu penyakit yang menyebar hampir ke seluruh dunia. Penyakit yang sering disebut sebagai COVID-19 (Coronavirus Disease) yang disebabkan oleh virus Corona ini dinyatakan sebagai pandemi global oleh WHO (World Health Organization) pada tanggal 11 Maret 2020. Pada tanggal 2 Maret 2020 silam, presiden Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Virus Corona pertama kali masuk ke Indonesia dibawa oleh seorang warga Negara Jepang yang sempat melakukan perjalanan ke Indonesia, lalu kemudian dia menularkannya ke pasien kasus satu, lalu ke pasien kasus dua.

Penyebaran virus Corona sangat berdampak ke berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Selain bidang ekonomi, bidang pendidikan juga sangat terpengaruh oleh dampak penyebaran virus Corona di Indonesia. Sama seperti negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu terkena dampak Corona, pemerintah pusat dan pemerintah daerah memutuskan untuk membatasi aktivitas yang melibatkan kumpulan orang banyak. Untuk menekan angka penyebaran COVID-19, pemerintah mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah.

Menteri Pendidikan dan Budaya, Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 pada Satuan Pendidikan dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (COVID-19) maka kegiatan belajar dilakukan secara daring (online) dalam rangka penekanan angka penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19). Kebijakan ini pastinya akan mengganggu kematangan anak didik dalam meraih tujuan belajarnya, baik secara akademis maupun psikologis. Pengalaman tertundanya proses pembelajaran sangat memperbesar kemungkinan terjadinya trauma psikologis yang akan membuat anak didik mengalami demotivasi dalam belajar.

Menurut penelitian yang dilakukan Gina Sonia (2020) anak-anak yang biasanya bisa belajar bersama teman-temannya di sekolah, akan menjadi malas untuk belajar mandiri di rumah karena merasa kesepian. Selain itu, faktor lain yang dapat membuat anak malas belajar adalah orang tua yang sering memarahi anak karena ketidaksabaran mereka saat mengajarkan anak yang pada akhirnya bisa membuat anak menjadi stress dan bisa mengganggu psikologi anak. Sedangkan dari survei yang dilakukan  oleh KPAI, sebanyak 79,9% anak berpendapat bahwa interaksi dalam proses belajar mengajar berkurang dan guru hanya memberikan tugas berat saja sehingga anak mengalami peningkatan stress.

Stress yang terjadi pada anak saat masa pandemi ini bisa disebabkan oleh banyak hal, selain yang sudah disebutkan diatas, kurangnya pemahaman anak tentang Covid-19 juga bisa menyebabkan anak merasa takut, sedih, bahkan sampai stress. Oleh karena itu, para ahli dalam bidang psikologi anak menghimbau para orang tua agar dapat menyampaikan informasi mengenai Covid-19 pada anak secara akurat dan dengan cara yang bisa dipahami oleh anak sesuai usia anak (Ahsani, 2020).

Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam membantu dan mendampingi anak belajar di rumah dengan optimal saat masa pandemi ini. Pola asuh orang tua menjadi faktor yang dominan dalam mengatasi stress pada anak dan pola asuh orang tua yang salah pada anak, sebaliknya, dapat semakin membebani anak. Orang tua harus menjadi contoh dalam menanamkan kesabaran pada anak dan menjaga kesejahteraan psikologis anak dengan menjaga agar anak tidak stress dalam situasi belajar yang baru ini, yaitu belajar dari rumah.

Menjadi pengganti guru dalam kegiatan mendampingi anak belajar di rumah saat masa pandemi ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua, seperti memahami gaya belajar anak. Masing-masing anak memiliki gaya belajarnya sendiri. Untuk memudahkan dalam mendampingi anak belajar, orang tua harus terlebih dahulu mengenal dan memahami gaya belajar anak, bisa jadi berupa gaya belajar secara visual, auditori, maupun kinestetik.

Selain memahami gaya belajar anak, penataan ruang belajar dan cara penyampaian materi pembelajaran juga harus diperhatikan. Ruang belajar yang digunakan sebaiknya dapat memberikan kenyamanan kepada anak. Sedangkan  untuk cara penyampaian materi pembelajaran, banyak metode yang bisa dilakukan seperti metode bercerita, metode bermain, metode diskusi dan metode demonstrasi.

Bercerita merupakan salah satu metode mendidik anak yang dapat memberikan banyak rangsangan sehingga dapat membantu perkembangan anak. Metode bercerita terbukti dapat disimak lebih baik oleh anak dibandingkan dengan metode pemaparan bukan dengan bercerita. Selanjutnya ada metode bermain, metode belajar sambil bermain ini merupakan metode belajar yang paling efektik untuk anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Metode belajar ini terbukti sangatlah efektif, namum memiliki kekurangan yaitu ketidakefisienan waktu dalam proses pengerjaannya. Selanjutnya, ada metode diskusi, dimana anak disajikan suatu masalah yang kemudian akan dipecahkan dan dibahas bersama-sama. Kelebihan dari metode diskusi ini adalah dapat merangsang anak untuk dapat berpikir lebih kritis akan suatu masalah yang dihadapi, namun juga memiliki kekurangan yaitu memerlukan waktu yang panjang dan anak yang pendiam dan pasif akan kesulitan mengikutinya. Dan yang terakhir adalah metode demonstrasi, yang merupakan metode belajar dengan cara menggunakan alat peraga dalam penyampaian materinya. Metode demonstrasi menjadikan proses pembelajaran lebih menyenangkan dan menarik, serta pelajaran akan menjadi jelas dan lebih konkret namun memerlukan tenaga pengajar yang memiliki keterampilan lebih.

Masa pandemi ini adalah masa yang sulit bagi semua orang di semua kalangan usia. Banyaknya aspek kehidupan yang terganggu membuat orang-orang menjadi lebih rentan mengalami stress, terutama pada anak usia sekolah yang harus mengikuti program belajar dari rumah. Banyak hal yang dapat menyebabkan anak menjadi stress hingga menimbulkan gangguan psikologi di masa-masa seperti ini. Oleh karena itu, orang tua, yang memiliki peranan penting dalam hal mengatasi stress pada anak, harus tau cara mendidik dan mendampingi anak belajar yang tepat pada masa pandemi ini.

sumber: kompasiana

Open chat
1
Ada yang bisa saya bantu?
Hello
Seamat datang di dfrcollection.com